Binatang Apa Sih Radio Itu ?

Radio..itu gelombang atau frekuensi.
Media Radio..itu sarana atau alat untuk menyampaikan sesuatu menggunakan sarana gelombang frekuensi. Dalam hal ini Audio.

Radio hanya menggunakan media Audio (suara)tanpa Video (visual). Maka sudah menjadi kewajiban setiap awak siarnya untuk menciptakan video (visual) di setiap benak atau kepala para pendengarnya. Karena itu Radio adalah media paling unik dan selalu dibutuhkan.
Kenapa Radio sampai saat ini masih diminati orang mulai dari Abang Becak sampai Menteri, dari Guru sampai Tentara, dari anak TK sampai seorang lulusan master.

Inilah ”keajaiban” Radio :

• Theatre Of Mind
Seperti yang saya katakan di atas, Radio atau Penyiarnya mampu menghipnotis pikiran pendengarnya dalam sajian ”Wonder Imagination” (nggak kalah kan sama Romi Rafael..hehehe), Dalam imajinasi pendengar akan timbul ”video” masing-masing yang orang lain tidak boleh dan tidak mampu merubahnya.
Ketika anda mendengarkan berita Unjuk Rasa lewat Radio, pasti anda bisa membayangkan bagaimana kacaunya, tegangnya dan anarkisnya situasi pada saat itu.
Anda juga bisa membayangkan dengan seenaknya sendiri setiap detail diri dan pribadi penyiarnya. Mulai dari kecantikan wajahnya, rambutnya, kemolekan tubuhnya.., dan lain-lain, hanya dengan ”The Power Of Voice”

• Personal
Di zaman modern sekarang ini, Radio sudah bisa dinikmati lewat Handphone, iPod, Walkman, dll. Lewat itu semua, anda sudah bisa menikmati suara merdu penyiarnya, sajian lagu-lagu favorit anda, berita dan info-info uptodate.
Lewat sapaan intim dan bersahabat, anda akan terbius di setiap sudut kamar anda, ruang kantor, pasar sampai di kamar mandi.
Anda pasti secara tidak sadar ikut bernyanyi, ikut tertawa, ikut sebel bahkan ikut termehek-mehek mendengarkan sajian informasi dan hiburannya.

• Murah
Untuk urusan bisnis, beriklan di Radio relatif lebih murah dari pada beriklan di media lainnya. Durasi spot +/- 1 menit bisa Cuma Rp.30.000,- dan langsung didengar minimal 150 telinga. Jadi, biaya untuk menyampaikan pesan iklan per orang hanya mengeluarkan biaya Rp.5 ,-. ” Sekali berujar, sejuta telinga mendengar”. Keren.........
Untuk berinteraktif ikut beropini, request lagu bahkan curhat, tidak perlu interlokal, karena radio bersifat lokal.

• Cepat
Kecepatan dan ketepan informasi sudah menjadi kebutuhan kita. Live Report dari reporternya bisa menyuguhkan berita lebih cepat dari media lainnya. Tidak menunggu mengirim hasil video atau turun cetak basoknya.
Radio juga sangat fleksibel dengan perubahan, karena bisa disajikan cepat saat kejadian atau peristiwa terjadi.

• Secondary Activity
Bayangkan anda membaca koran atau majalah sambil ngobrol atau smsan, melihat TV sambil mengendarai motor atau mobil. Imposible...
Kalo radio? Sangat bisa. Mendengarkan radio bisa sambil membaca koran, nonton TV, ngobrol, makan, mengendarai motor / mobil, masak, sampai ngepel lantai. Wonderfull...

• Daya Tembus
Kekuatan suara lebih dasyat daripada gambar.
Kalau anda tidak suka dengan tayangan TV, anda cukup menutup mata, tapi ketika anda mencoba menutup telinga, sekuat apapun anda pasti masih bisa mendengar suaranya.

• Berintonasi
Sajian di Radio langsung berintonasi / bernada.
” Anjing makan ayam mati ”
Kalau di artikel atau di sms, mana pemenggalan yang benar? Kalau salah memenggal kata, bisa beda artinya dan salah paham.

Masih banyak sekali karakteristik Radio yang merupakan senjata ampuh agar diminati oleh para penggemarnya.
Tapi semua pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Baik Radio, TV, koran maupun majalah harus bersinergi untuk memberikan kepuasan informasi dan hiburan kepada masyarakat yang butuh dan haus akan semua itu.


baca semuanya biar puaazz..

News Digging / Menggali Berita

Di lapangan, seorang reporter yang kurang persiapan akan bingung dan bahkan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Untuk menghindari hal ini, maka seorang reporter sangat dianjurkan untuk melakukan persiapan sebelum terjun ke lapangan. Salah satu persiapan yang perlu dilakukan adalah melalui “penggalian berita”.

Ada beberapa sarana yang bisa digunakan untuk menggali berita lebih dalam:

1. Rapat Redaksi

Sebuah produk berita, adalah hasil kerja team. Biasanya setiap hari sebuah media pemberitaan paling tidak menyelenggarakan rapat redaksi satu kali. Waktu pelaksanaan rapat redaksi bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi kerja di radio kita masing-masing. Idealnya jika briefing dilakukan pagi hari, bisa dilaksanakan sebelum aktifitas pemberitaan dimulai, antara jam 8, 9 atau 10 pagi. Jika kita memberlakukan shift kerja dalam divisi pemberitaan, kita bisa membuat rapat redaksi di sore hari, bertepatan dengan waktu pergantian shift agar semua yang terlibat bisa mengikuti rapat ini (kecuali yang sedang bertugas di lapangan), yaitu sekitar jam 3 atau 4 sore.

Rapat Redaksi biasanya dipimpin oleh editor dan diselenggarakan dalam waktu yang singkat, antara 10 sampai 15 menit saja, tergantung dari banyak sedikitnya berita yang akan dibahas. Selain membahas berita, dalam rapat juga dilakukan evaluasi dari isi, kemasan dan bentuk dari berita yang sudah disiarkan sejak briefing terakhir, serta merencanakan berita yang akan diliput dan disiarkan.

Contoh evaluasi: Apakah ada yang lolos, apakah berita kita cukup aktual dan tidak kalah dengan radio dan media lain, apakah hasil rekaman wawancara kemarin sudah di-edit, sudah disiarkan dan sudah sesuai standar dan lain sebagainya.

Jangan lupa untuk menyampaikan perkembangan berita terakhir kepada reporter, sekaligus membagi tugas reporter. Jika diperlukan, dalam rapat redaksi juga bisa didiskusikan apa yang akan menjadi berita utama, apakah perlu melakukan wawancara dengan narasumber tertentu dan lain sebagainya.

2. Agenda Liputan

Dalam sebuah News Room, diperlukan adanya 1 media, entah itu papan tulis, white board, work-sheet atau kalau jaman modern seperti sekarang bisa berupa sebuah file document Microsoft Office yang bisa diakses oleh semua bagian yang terlibat dalam pemberitaan. Sarana ini digunakan untuk mencatat, tugas apa yang diberikan atau sedang dikerjakan oleh setiap personil, sehingga setiap orang bisa saling mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh anggota team yang lain.

Selain tugas masing-masing personil, dalam dokumen ini tentunya dicantumkan pula Agenda Liputan yang berisi berita-berita atau kegiatan apa saja yang harus diliput, termasuk perencanaan liputan atau acara-acara yang akan berlangsung di waktu mendatang. Biasanya rencana liputan atau jadual kegiatan yang akan berlangsung bisa diisi oleh editor dan reporter senior.

Acara-acara yang akan berlangsung diantaranya adalah konferensi pers, seminar, launching product, kegiatan para news maker dan lain sebagainya.

3. Bank Data

Bank Data ini berisi data organisasi dan narasumber atau orang-orang yang bisa kita kontak lengkap dengan nomor telpon mereka. selain nomor kantor, usahakanlah selalu mendapatkan nomor handphone narasumber bahkan jika memungkinkan nomor telpon rumah agar kita lebih mudah menghubungi mereka. Bank Data harus bisa diakses oleh semua reporter dan harus ada satu petugas yang memperbaharuinya secara teratur.

4. Arsip Berita

Berita yang selalu berkembang sehingga diperlukan pengarsipan berita, sehingga jika ada perkembangan dikemudian hari, kita tidak akan mengalami kerepotan dalam menggali data. Saat ini, selain menggali data dari bagian pengarsipan di radio kita, reporter juga dituntut untuk kreatif mencari data di internet. Selain untuk penggalian data, arsip berita juga diperlukan jika ada pendengar atau pihak-pihak tertentu yang menanyakan suatu berita yang pernah kita siarkan. Idealnya, berita yang diarsipkan mulai dari naskah berita, rekaman wawancara hingga siaran berita.

5. Kontak dan Catatan Pribadi

Seorang reporter biasanya memiliki buku catatan sendiri yang berisi nomor-nomor narasumber yang biasa diwawancarai. Dianjurkan data ini untuk selalu dikembangkan dan juga diberikan ke petugas pencatatan bank data di news room, agar jika terjadi sesuatu dengan catatan pribadi tersebut, misalnya hilang, kita masih memiliki back up-nya di kantor. Selain kontak pribadi, reporter dianjurkan untuk membuat catatan-catatan kecil sendiri setiap meliput sebuah peristiwa. Tujuannya adalah, jika ada perkembangan lebih lanjut mengenai berita tersebut dengan mudah kita bisa membuka catatan tersebut dan mengingat apa yang perlu untuk ditindak lanjuti.



baca semuanya biar puaazz..

Radio Memberikan Apa Maunya Pendengar

Harian Kompas Minggu : Suatu saat, Radio Kayu Manis, Jakarta, merekrut penyiar muda untuk regenerasi dan memperluas pasar pendengar. Didapatlah beberapa orang, tetapi belum sampai tiga bulan mereka sudah ”kabur”. Alasannya simpel, tidak betah bergaul dengan penyiar lain yang berusia di atas 40 tahun. Sebaliknya, karyawan berusia di atas 60 tahun—sambil nangis-nangis—tidak mau dipensiunkan. Radio Kayu Manis (RKM) FM yang mengudara di frekuensi 97,9 MHz bermaksud memperluas segmen pendengar yang selama ini ada, usia di atas 35 tahun. Dibikinlah acara Gebrak Band Pemula. Penyiar muda dirasa lebih cocok untuk memandu acara ini. Namun, karena tidak ada penyiar baru, Bung Tan (66) pun turun tangan.
Pada akhirnya, andalan RKM tidak jauh beringsut dari acara seperti Pentas Keroncong, Sandiwara Jawa, Sunda, Minang, Gending Jawa, dan Tembang Kenangan. ”Kami memiliki pendengar setia untuk ini. Ada komunitasnya lagi,” kata Direktur Utama (Dirut) RKM Tuning Saroso.

Kenyataan itu berkebalikan dengan Radio Gen, misalnya, yang usia karyawannya antara 25 hingga 30-an tahun. Direktur Utama Gen Adrian Syarkawi berusia 38 tahun. Pasar pendengar yang dibidik Gen (98,7 MHz) yang mulanya berusia 18-35 tahun juga terseleksi menjadi usia antara 20 hingga 24 tahun—usia anak kuliah dan pekerja pemula. Dari sini bisa dilihat, betapa radio saat ini makin tersegmentasi, membatasi usia pendengar dengan membatasi program. Bayangkan jika 1.300 radio di seluruh Indonesia (sekitar 800 yang resmi) menyajikan program yang sama untuk segala usia. Sangat sulit menggaet pendengar setia. Tak heran jika radio makin mempersempit diri. I-Radio atau Indonesia Radio hanya memutar lagu-lagu dari penyanyi Indonesia. Lalu ada Female Radio yang dari namanya sudah ketahuan segmen mana yang dibidik.

Prambors, yang dulu selalu memutar lagu-lagu top 40, kini memutar haluan, yaitu memutar lagu-lagu grup indie. ”Sejak dua tahun lalu, kami memiliki acara Thursday Riot. Ini siaran musik indie secara live dari genre britpop hingga emo,” tutur Program Director Prambors Niken Puspitawangi. Ramako kini berganti nama menjadi Lite FM dengan semboyan the best slow hits station. Bagaimana dengan Elshinta, Suara Metro, hingga RRI? Atau bagaimana dengan radio dangdut semacam Bens, DangdutTPI, dan Megaswara? Tiga radio dangdut itu menempati rating pertama, kedua, dan keempat berdasarkan survei AGM Nielsen terhadap radio-radio di Jakarta. Dangdut di Bens berbeda dengan dangdut di Megaswara. Betapa margin segmen pendengar mereka menjadi makin tipis.

Memberi mau pendengar

Semua radio pasti ingin memuaskan pendengarnya, memberi apa mau pendengar. Gen adalah salah satu yang dengan kesadaran penuh melakukan itu. Alhasil, baru didirikan 9 Agustus 2007 dengan membeli frekuensi Radio Attahiriyah, Gen sudah nangkring di rating satu (radio non-dangdut) berdasarkan survei AGB Nielsen untuk radio di Jakarta. Pendengar Gen mencapai 2,75 juta orang. ”Kami memberi yang sama dari pagi sampai malam, musik dengan human touch. Penyiar tidak banyak omong, hampir tidak ada acara talk show. Orang pencet Gen jam berapa pun, dia akan mendapat sesuatu yang sama,” kata Adrian. Hal ini klop dengan semboyan Gen, yakni suara musik terkini. Iklan pun disesuaikan dengan segmen pendengar. Jika iklan tidak bakal disukai pendengar, Gen tidak segan-segan menolak tawaran iklan. ”Daripada pendengar kabur,” ujar Adrian.

Berkebalikan dengan Gen, Elshinta yang siaran di 90,0 MHz justru tidak sekalipun memutar lagu selama 24 jam siaran. Radio ini menjadi satu-satunya stasiun yang khusus memberi berita dan informasi. Meski sangat membosankan, strategi ini justru membuat radio dengan tagline news and talk ini bertahan di tengah ketatnya persaingan di bisnis siaran radio. Elshinta berada di rating empat (non-dangdut) atau meraup pendengar 2,09 juta orang. Pemimpin Redaksi Radio Elshinta Iwan Haryono mengungkapkan, pemasang iklan rela antre untuk mendapat jatah slot siar. ”Antreannya sampai 3-6 bulan. Ada yang pasang slot iklan untuk lima tahun sekaligus,” katanya. Informasi dari Elshinta juga menjadi salah satu acuan buat warga, pejabat, polisi, dan wartawan media lain. Tidak sekali dua kali kantor berita asing melansir informasi dari radio yang berdiri tahun 1968 ini. Padahal, sampai tahun 1990-an Iwan masih bingung mengembangkan radio yang waktu itu masih radio spesialis musik jazz. Momen kerusuhan Mei 1998 menjadi awal mula radio ini mengarah ke radio berita, hingga akhirnya diresmikan tahun 2000.

Merombak RRI

Jangan bayangkan Radio Republik Indonesia (RRI) saat ini sama seperti RRI zadul alias zaman dulu, radio negara yang didirikan 11 September 1945 itu. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002, RRI adalah lembaga penyiaran publik, satu badan hukum yang didirikan negara untuk kepentingan publik. ”Kami bukan corong pemerintah,” kata Dirut RRI Parni Hadi yang memimpin RRI sejak tiga tahun lalu. Parni menggambarkan dirinya sebagai penjaga kebun binatang yang membuka kandang unta agar sang unta bisa bebas lepas, tidak terkurung dalam kehebatannya sendiri. RRI hebat, tetapi selama ini terpenjara sehingga sumber dayanya tidak berkembang. Program terkini RRI adalah membangun pemancar radio di daerah perbatasan, misalnya di Atambua, Entikong, dan Merauke. RRI masih didengarkan khususnya di daerah. Berdasarkan survei, kata Parni, 85 persen warga di Ende, Nusa Tenggara Timur, mendengarkan RRI. Di Bangka-Belitung, 90 persen warganya mendengarkan RRI. ”Soal jaringan, kami tidak bisa dilawan. Kami memiliki 60 stasiun di Indonesia. Reporternya tersebar di tiap kabupaten bahkan kecamatan,” ujar Parni. Direktur Program dan Produksi RRI Niken Widiastuti mengatakan, RRI memasok kebutuhan pendengar. Maka, lantas ada Programa 1-4. Untuk penggemar menengah-bawah, terutama di daerah, Programa 1 paling disenangi. Yang suka musik dan gaya hidup, putarlah Programa 2. Yang gemar mendengarkan berita, pencet Programa 3.

Maka, seiring pasar yang menyempit, pendengar pun makin fanatik. Sedikit saja radio kesayangan melenceng dari jalur, kritik berdatangan. RKM, misalnya, pernah mendapat protes bertubi-tubi gara-gara menyiarkan iklan obat kuat. Wah, itu memang menyimpang dari semboyan RKM: lembut suaranya manis bisikannya.



baca semuanya biar puaazz..

Tips Seleksi Calon Penyiar Radio

Berikut kami temukan yang mungkin dapat membantu Anda yang berminat untuk menjadi penyiar radio. Saya kutip dari blog Radio Clinic Alex Santosa.

Seleksi calon penyiar adalah pekerjaan yang sudah akrab dilakukan oleh para program director, manager siaran atau station manager sebuah radio. Dalam posting kali ini saya akan berbagi pengalaman menyeleksi penyiar radio. Semoga bisa bermanfaat, juga bagi anda yang berminat menjadi penyiar radio.

Kemampuan dasar yang harus dimiliki Broadcaster / Newscaster
1. Kemampuan vokal :
> memiliki kualitas vokal yang bagus, bulat dan tidak pecah
> memiliki artikulasi yang jelas
> bisa berekspresi melalui suara
> bisa memainkan intonasi suara
> bisa mengatur kecepatan bicara
> cukup memiliki kemampuan verbal

2. Kemampuan personal:
> suka bicara dan bisa menjadi pendengar yang baik jika berhadapan dengan narasumber /
saat melakukan wawancara
> memiliki spontanitas yang baik
> memiliki kepekaan terhadap situasi
> mampu menjaga emosi, terutama pada saat siaran
> percaya diri saat berbicara / siaran
> memiliki rasa ingin tahu
> bisa berkonsentrasi
> memiliki sense of humor

Point-point ini bisa kita temukan di awal seleksi melalui wawancara dan mendengarkan rekaman calon penyiar. Perlu diperhatikan, kualitas vokal yang baik, suka berbicara dan suka mendengar tidak bisa dilatih. Seseorang yang tidak bisa memiliki kemampuan tersebut sulit menjadi seorang penyiar radio. Sedangkan pelamar yang bisa memenuhi kemampuan dasar, akan lebih mudah untuk dilatih menjadi penyiar yang baik.

Semoga bermanfaat dan dapat menjadikan Anda sebagai penyioar radio yang handal.



baca semuanya biar puaazz..

Tantangan Bisnis Radio Jaman Sekarang

Apakah anda pengelola atau pengurus salah satu station Radio di Indonesia? Mungkin anda telah menyadari betapa banyaknya tantangan mengelola manajemen radio saat ini. Tidak seperti 10 tahun lalu, dimana belum banyak station radio yang berdiri. Beberapa tantangan itu sempat saya catat berdasarkan cerita dari sahabat-sahabat saya yang saat ini masih mengelola station radio.

1. Tantangan dari dunai internet yang mana orang dengan mudahnya mengunduh (download) lagu-lagu yang dia suka, baik lagu baru maupun lagu lama.

2. hampir semua station radio bisa mendapatkan lagu-lagu baru, tanpa ada eksklusifitas lagi.

3. rasa ingin menjiplak kesuksesan radio lain sangat besar. Yang ternyata, setelah dijiplak pun, program tersebut tidak sukses di radio kita.

4. sulitnya mendapatkan SDM/Penyiar yang bagus. Begitu dapet yang bagus, biasanya itu hanya sebagai batu loncatan saja bagi orang tersebut. Dia lebih tertarik pindah ketika mendapat tawaran di station TV.

5. ingin membuat program yang spektakuler, tetapi tidak ada biaya. Kalaupun ada uang, tapi sulit menjual ide tersebut untuk mendapatkan sponsorship. Akahirnya, karena ragu uangnya balik, maka gagasan itu batal dilaksanakan.

6. frustasi ketika lebih banyak orang mendengarkan iPod atau musik melalui HP mereka yang tentu lebih personal dari pada radio.

7. muncul berbagai radio online yang lebih bebas tanpa takut ditegur KPI.

8. krisis ekonomi global telah membuat beberapa klien gulung tikar. Ini membuat kita semakin sulit mendapat iklan. Tanpa krisis ekonomi pun, sebetulnya mendapatkan iklan itu sudah sulit lho...

Ah, terlalu banyak tantangan dalam mengelola station radio saat ini, ternyata bukan hanya radio, kawan-kawan saya di industri televisi dan cetak pun sama. Hanya mereka yang "brand"-nya sudah kuat yang masih bisa eksis.

Hmmmmm.... itu kuncinya ya? "Brand" yang kuat!!! Bagaimana agar brand kita kuat?

Ohhhhh..... itu tantangan lain lagi rupanya... Bukan hanya untuk kita di industri radio, tetapi hampir disemua bidang orang perlu brand kuat supaya bisa yang eksis... Biasanya, kekuatan merek itu terdiri dari minimal ada 6K untuk mendapat satu K besar. Apa itu 6K? 6K adalah Kualitas, Kreatifitas, Kontinyuitas, Komitmen, Kebersamaan (teamwork) internal kuat dan Kontribusi kepada khalayak. Barulah setelah itu K besar (kuat) bisa kita raih.

Anda boleh mengomentari tulisan ini, silahkan pengalaman anda atau tantangan apa yang sedang anda hadapi...



baca semuanya biar puaazz..

Awas! Mendengarkan Siaran Sepakbola di Radio Bisa Bikin Celaka

Hobi mendengarkan jalannya pertandingan sepakbola di radio? Hati-hati, penelitian menemukan kalau hal itu bisa menjadi kegiatan yang mematikan!

Penelitian dari para ilmuwan di Britain University of Leicester menyatakan bahwa goal, penalti dan kartu merah bisa menyebabkan para fans kehilangan konsentrasi dan mengemudi dengan sembrono.

"Disimpulkan bahwa, saat memungkinkan, fans sepakbola harus minta orang lain untuk mengemudi saat laga-laga penting seperti final Liga Champions," tutur Profesor Michael Pont di Reuters.

Laporan dari penelitian itu juga memaparkan bahwa dua juta pengemudi kendaraan sudah mengalami kecelakaan atau nyaris celaka ketika mendengarkan siaran olahraga di radio.

"Diketahui secara luas bahwa berbicara melalui ponsel (saat berkendara) berpotensi mengakibatkan kecelakan, tapi aktivitas lain punya dampak serupa, seperti mendengarkan siaran olahraga," kata Pont.

"Hasil yang kami dapat menerangkan bahwa ada dampak yang sangat besar terhadap perilaku subyek penelitian ini, terutama saat situasi tensi tingkat tinggi dalam pertandingan," urai dia lebih lanjut.

Penelitian yang mempelajari perilaku para relawan dalam sebuah simulator mengemudi itu menemukan fakta bahwa fans sepakbola terbiasa ngebut atau mengurangi kecepatan dengan tiba-tiba, berusaha melewati kendaraan di depan dan mengubah lajur kendaraan terus menerus.

Satu orang pengemudi yang adalah fans Chelsea, bereaksi dengan menekan pedal gas, berusaha meng-overtake dan mengubah lajur mobilnya terus-terusan setelah seorang pemain Barcelona dikartu merah saat laga antara Barca kontra Chelsea.

Studi itu juga menemukan bahwa perilaku para penggemar sepakbola di balik kemudi berbeda dengan para pendengar siaran pertandingan yang tidak terlalu menggilai sepakbola. (detik.com)



baca semuanya biar puaazz..

Perda PT. Radio Kanjuruhan Akan Dicabut

Gonjang ganjing soal penyertaan modal Rp 1 miliar pada Radio Kanjuruhan berbuntut pada rencana pencabutan Perda No 7 tahun 2004 tentang PT Radio Kanjuruhan FM. Sebab, praktiknya tidak bisa melaksanakan amanah dalam Perda itu, yaitu menjadikan Radio Kanjuruhan milik Pemkab Malang itu menjadi PT. Sebab hingga kini, Perda tersebut memang tidak ditindaklanjuti dengan akta notaris serta juknis dari Bupati Malang.

“Yang tidak kita antisipasi adalah ternyata ketika Perda itu keluar, ada peraturan pemerintah tentang kuota kanal buat radio yang sudah ada,” terang Kukuh Banendro, Kabag Humas Pemkab Malang, Rabu (3/6). Namun Kukuh tidak menjelaskan mengapa baru tahun ini Perda itu bakal dicabut, padahal sejak dulu tidak berfungsi.

Sementara regulasi yang disebut Kukuh adalah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran dan ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 11 Tahun 2005 tentang Penyelenggara Penyiaran Lembaga Penyiaran Publik (LPP).

“Karena kuota kanalnya untuk di Malang hanya untuk 10 radio, padahal yang mendaftar sebanyak 50 radio. Radio Kanjuruhan termasuk yang tidak mendapat kanal. Sehingga sejak diberlakukan Perda tersebut pada 2005, tidak segera ditindaklanjuti dengan akta notaris,” tutur Kukuh.

Karena itu, hingga kini label PT pada Radio Kanjuruhan tidak pernah ada. Tapi Bagian Humas yang mengelola radio tersebut tidak mempermasalah jika media elektronik ini hanya menjadi LPP (Lembaga Penyiaran Publik).

“Dengan jadi PT, waktu itu asumsinya bisa memperbanyak pendapatan daerah. Tapi kalau kondisinya tidak ada kanal, ya hanya jadi LPP. Orientasi mencari iklannya memang tidak sebanyak menjadi PT,” ujarnya.

Rencana pencabutan Perda No 7 ini akan dilakukan oleh Bagian Hukum yang saat ini memang tengah menginventaris sejumlah perda yang sudah tidak sesuai kondisi terkini. “Berapa banyak perda yang sudah kadaluarsa masih kita inventarisasi,” tambah Nurcahyo, Kabag Hukum secara terpisah. Sejauh ini, lanjutnya, aktivitas di bekas RKPD ini tetap berlangsung seperti biasa. (Surya)


baca semuanya biar puaazz..

Radio Siaran Swasta

PRSSNI sebagai wadah organisasi radio swasta di Indonesia menuliskan bahwa keberadaan radio siaran di Indonesia, mempunyai hubungan erat dengan sejarah perjuangan bangsa, baik semasa penjajahan, masa perjuangan proklamasi kemerdekaan, maupun didalam dinamika perjalanan bangsa memperjuangkan kehidupan masyarakat yang demokratis, adil dan berkemakmuran.

Di zaman Penjajahan Belanda, radio siaran swasta yang dikelola warga asing menyiarkan program untuk kepentingan dagang, sedangkan radio siaran swasta yang dikelola pribumi menyiarkan program untuk memajukan kesenian, kebudayaan, disamping kepentingan pergerakan semangat kebangsaan. Ketika pendudukan Jepang tahun 1942, semua stasiun radio siaran dikuasai oleh pemerintah, programnya diarahkan pada propaganda perang Asia Timur Raya. Tapi setelah Jepang menyerah kepada Sekutu 14 Agustus 1945 para angkasawan pejuang menguasai Radio Siaran sehingga dapat mengumandangkan Teks Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 ke seluruh dunia. Selanjutnya sejak proklamasi kemerdekaan RI sampai akhir masa pemerintahan Orde Lama tahun 1965, Radio Siaran hanya diselenggarakan oleh Pemerintah, dalam hal ini Radio Republik Indonesia atau RRI.

Secara defacto Radio siaran swasta nasional Indonesia tumbuh sebagai perkembangan profesionalisme “radio amatir” yang dimotori kaum muda diawal Orde baru tahun 1966; secara yuridis keberadaan radio siaran swasta diakui, dengan prasyarat, penyelenggaranya ber-Badan Hukum dan dapat menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan Pemerintah RI nomor 55 tahun 1970 tentang Radio Siaran Non Pemerintah, yang mengatur fungsi, hak, kewajiban dan tanggungjawab radio siaran, syarat-syarat penyelenggaraan, perizinan serta pengawasannya.

Hingga saat ini, saya mengamati perkembangan radio swasta semakin membaik, apalagi setelah jatuhnya Orde Baru pada tahun 1998. Terima kasih reformasi, karena sekarang saya dapat mendengarkan berita-berita aktual setiap saat melalui siaran radio swasta yang lebih kredibel. Kita tidak lagi terpasung mendengarkan berita pada jam-jam tertentu. Itu satu hal yang positif, bagaimana industri melihat peluang yang ada pada saat bergulirnya reformasi.


baca semuanya biar puaazz..

Sekilas Sejarah Amatir Radio di Indonesia

Kegiatan Amatir radio merupakan kegiatan orang-orang yang mempunyai hobby dalam bidang tehnik transmisi radio dan elektronika, kegiatan ini disahkan, diatur dan diawasi secara global baik oleh Badan-badan telekomunikasi international seperti ITU dan IARU maupun oleh badan telekomunikasi nasional disetiap negara. Oleh karena itu dalam melakukan kegiatannya mereka mempunyai dan berlandaskan KODE ETIK AMATIR RADIO.

Kegiatan amatir radio di Indonesia dimulai pada tahun 1930-an ketika Indonesia masih dalam jajahan Belanda atau Hindia Belanda. Sangat sedikit orang yang dipercaya oleh kekuasaan untuk memiliki izin amatir radio saat itu. Dua diantara mereka yang disebut-sebut sebagai pelopor adalah : Rubin Kain (YB1KW) yang izinnya didapat tahun 1932. Beliau telah meninggal pada tahun 1981. Yang kedua adalah B. Zulkarnaen (YB0AU) yang izinnya didapat pada tahun 1933. Beliau juga telah meninggal pada tahun 1984.

Semua aktifitas amatir radio dihentikan pada saat pendudukan Jepan dan Perang Dunia II, namun ada dari sebagian mereka yang tetap nekat beroperasi dibawah tanah untuk kepentingan Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tahun 1945, proklamasi kemerdekaan RI disiarkan ke seluruh dunia dengan menggunakan sebuah pemancar radio revolusioner yang dibuat sendiri oleh seorang amatir radio yang bernama Gunawan (YB0BD). Jasa YBoBD ini diakui oleh Pemerintah dan sebagai penghargaannya, pemancar radio buatan Gunawan tersebut di simpan di Museum Nasional Indonesia.

Selanjutnya, kegiatan amatir radio diselenggarakan kembali pada tahun 1945 sampai dengan 1949. Namun karena alasan keamanan dalam negeri, pada tahun 1950, pemerintah melarang kegiatan amatir radio hingga tahun 1967. Landasan pelarang itu adalah Undang-undang No. 5/1964 yang menegaskan hukuman yang sangat berat bagi mereka yang memiliki pemancar radio tanpa izin.

Pada tahun 1966, amatir radio memperjuangkan kepentingannya kepada pemerintah agar amatir radio dapat diselenggarakan kembali di Indonesia. Akhirnya, dengan Peraturan Pemerintah No. 21/1967, pemerintah mengizinkan kembali kegiatan amatir radio.

Melalui Konferensi Amatior Radio yang pertama pada tgl. 9 Juli 1969 di Jakarta, didirikan organisasi yang bernama Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (ORARI). Pada Munas ORARI tahun 1977, nama organisasi dirubah menjadi Organisasi Amatir Radio Indonesia dengan singkatan yang sama hingga sekerang.

Terbentuknya ORARI dapat dikatakan berawal di Jakarta dan Jawa Barat atau pulau Jawa pada umumnya dan diprakarsai oleh kegiatan aksi mahasiwa , pelajar dan kaum muda, diawal tahun 1965 sekelompok mahasiwa publistik yang tergabung dalam wadah KAMI membentuk radio siaran perjuangan bernama Radio Ampera, mulai saat itu juga bermunculanlah radio siaran lainya seperti Radio Fakultas Tehnik UI, Radio Angkatan Muda, Kayu Manis, Draba, dll.

Sudah tentu semua radio siaran itu merupakan siaran yang tak memiliki izin alias Radio gelap. Sadar karena semakin banyaknya radio siaran bermunculan yang memerlukan suatu koordinasi demi tercapainya perjuangan ORBA maka dibentuklah pada tahun 1966 oleh para mahasiwa suatu wadah yang diberi nama PARD (Persatuan Radio Amatir Djakarta) diantaranya terdapat nama-nama koordinatornya seperti Willy A Karamoy. Ismet Hadad, Rusdi Saleh, dll.

Di Bandung juga terbentuk PARB. Bagi anggota yang hanya berminat dalam bidang teknik wajib menempuh ujian tehnik dan bagi kelompok radio siaran disamping perlu adanya tehnisi yang telah di uji juga wajib menempuh ujian tehnik siaran dan publisistik. Setelah itu kesemuanya diberi callsign menggunakan prefix X, kode area 1 s/d 11 dan suffix 2 huruf sedangkan huruf suffix pertamanya mengidentifikasikan tingkat keterampilannya A s/d F seperti X6AM, X11CB dsb sedangkan untuk radio siaran diberi suffix 3 huruf.

Pada mulanya PARD merupakan wadah bagi para amatir radio dan sekaligus radio siaran . Sehingga pada saat itu secara salah masyarakat mengidentikan Radio amatir sebagai radio siaran non RRI. Karena adanya tingkatan keterampilan, PARD saat itu juga menyelenggarakan ujian kenaikan tingkat. Disamping itu terdapat juga para Amatir era 1945-1952 yang tergabung dalam PARI (Persatoean Amatir Repoeblik Indonesia 1950), diantaranya terdapat nama - nama , Soehodo †. (YBØAB), Dick Tamimi †. (YBØAC), Soehindrio (YBØAD), Agus Amanto † (YBØAE), B. Zulkarnaen †. (YBØAU), Koentojo † (YBØAV) dll. Diantara mereka ternyata ada juga yang menjadi anggota PARD seperti, (YBØAE) dan (YBØAU).


baca semuanya biar puaazz..

Radio Republik Indonesia

Melalui situsnya dijelaskan bahwa RRI atau Radio Republik Indonesia secara resmi didirikan pada tanggal 11 September 1945, oleh para tokoh yang sebelumnya aktif mengoperasikan beberapa stasiun radio Jepang di 6 kota. Rapat utusan 6 radio di rumah Adang Kadarusman, Jalan Menteng Dalam, Jakarta, menghasilkan keputusan mendirikan Radio Republik Indonesia dengan memilih Dokter Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum RRI yang pertama. Rapat tersebut juga menghasilkan suatu deklarasi yang terkenal dengan sebutan Piagam 11 September 1945, yang berisi 3 butir komitmen tugas dan fungsi RRI yang kemudian dikenal dengan Tri Prasetya RRI.

Penghapusan Departemen Penerangan oleh Pemerintah Presiden Abdurahman Wahid dijadikan momentum dari sebuah proses perubahan government owned radio ke arah Public Service Boradcasting dengan didasari Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2000 yang ditandatangani Presiden RI tanggal 7 Juni 2000.

Saat ini RRI memiliki 52 stasiun penyiaran dan stasiun penyiaran khusus yang ditujukan ke Luar Negeri dengan didukung oleh 8500 karyawan.

Kecuali di Jakarta, RRI di daerah hampir seluruhnya menyelenggarakan siaran dalam 3 program yaitu Programa daerah yang melayani segmen masyarakat yang luas sampai pedesaan, Programa Kota (Pro II) yang melayani masyarakat di perkotaan dan Programa III (Pro III) yang menyajikan Berita dan Informasi (News Chanel) kepada masyarakat luas. Di Stasiun Cabang Utama Jakarta terdapat 6 programa yaitu programa I untuk pendengar di Propinsi DKI Jakarta Usia Dewasa, Programa II untuk segment pendengar remaja dan pemuda di Jakarta, Programa III khusus berita dan Informasi, Programa IV Kebudayaan, Programa V untuk saluran Pendidikan dan Programa VI Musik Klasik dan Bahasa Asing. Sedangkan "Suara Indonesia" (Voice of Indonesia) menyelenggarakan siaran dalam 10 bahasa.


baca semuanya biar puaazz..

Recent Comments

Runing Texts (update)

Monggo Chatting

LET's CHAT with YAHOO

HERDIyanto

My photo
Malang, Jawa Timur, Indonesia
I'm Just Human Being..just ordinary Man.. Marga Herdiyanto ~ Herdi ~ Malang, 21 Agustus 1979 Jl. Danau Sentani Dalam H-1 M-14 Work : (Radio) 89.5 RCBFM MALANG As : - Music Director - Sound Designer - Announcer Also : ON AIR BROADCASTING SCHOOL MALANG as : Promo Manager & Tentor On Air Scedule : Senin : 19.00-22.00 : A S K S Selasa: 11.00-12.00 : DEPOT DANGDUT Kamis : 11.00-12.00 : DEPOT DANGDUT 19.00-21.00 : NURUT GAK NURUT Jumat : 11.00-12.00 : DEPOT DANGDUT Sabtu : 11.00-12.00 : DEPOT DANGDUT Minggu: 08.00-09.00 : CHART 8 INDO HITS 15.00-17.00 : PRODUSER on FOLARE

  ©Template by Dicas Blogger.